Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab vb
Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab

Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab

Diposting pada

Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab – Laras adalah seorang perempuan diantara Anto dan Markus, dua orang laki2 yang mengapitnya. Seorang gadis alim aktifis BEM dikampusnya, berparas cantik, kulit putih dan tubuh montok yang selalu tertutup oleh jilbab lebar dan pakaian muslimah yang longgar dan santun. Matanya yang indah dah lentik nampak sayu, tak kuasa menahan gejolak rasa yang sedang ia rasakan, dari sentuhan-sentuhan dua orang laki-laki yang mengapitnya.

Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab vb
Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab

Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab – Gadis alim itu tak kuasa melawan gejolak yang diakibatkan sentuhan-sentuhan dua orang laki-laki dikiri dan kanannya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka, mendesahkan rintihan-rintihan birahi, dan sedikit kata2 penolakan yang tak berarti. Sang dara berjilbab itu sudah hanyut dalam permainan dua laki2 kotor yang berbafsu padanya.Malam itu, Laras sang gadis alim yang santun berjilbab itu sebenarnya mendapat undangan rapat mendadak persiapan mahasiswa baru di kampusnya, namun saat ia sampai di kAntor BEM, ternyata disana hanya ada Anto, sang ketua BEM, dan Markus, si pejantan kampus dari Irian, yang tahun ini bertugas menjadi ketua keamanan kampus. “lainnya mana pak Anto? Mas kholid? Mbak Sari? Mbak Yulia?” tanya Laras pada Anto. “Mereka ijin nggak bisa datang. Ada acara.” Kata Anto. Laras hanya mengangguk-ngangguk percaya. Cerita Dewasa | Bagaimana tidak, Anto, ketua BEM itu sudah sangat lama menjadi seorang yang Laras idamkan. Ketampanan dan kedewasaan Anto yang membuat Laras menaruh hati padanya. Anto bukannya tidak tahu hal itu, tapi tanpa sepengetahuan Laras, Anto sesungguhnya adalah seorang playboy yang sangat handal. Sudah banyak wanita baik yang menjadi korban sang ketua BEM itu, dari yang anak gaul sampai anak rohis jang berjilbab besar di kampus nya. Dan target Anto selanjutnya adalah Laras. undangan rapat itu juga sebenarnya hanya akal-akalan Anto dan Markus, karena yang diundang sebenarnya hanya Laras. Rapat yang terjadi ternyata menyita waktu 3 jam, sampai sekitar pukul 10 malam. Diluar gedung, butir-butir besar air hujan mengucur deras membasahi bumi. Setelah rapat selesai, belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Laras hendak nekat pulang dibawah guyuran hujan deras, namun dengan lembut Anto menahannya dan memintanya untuk menunggu barang sebentar lagi. Gadis alim berjilbab itu termakan rayuan Anto, dan menyetujuinya. Beberapa saat kemudian, 2 insan itu sudah terlibat percakapan yang hangat. Mereka tidak mengetahui Markus yang keluar. Saat2 berlalu, percakapan kedua insan berlainan jenis itu semakin menuju kearah BEMbicaraan pribadi, dan Laras, sang gadis alim yang lugu semakin larut kedalam rayuan hebat Anto, ketua BEM yang playboy itu. Pipi mulus Laras sedikit2 terlihat merona merah karena rayuan Markus. Bibir indahnyapun sedikit2 tersenyum simpul, tertipu malu. Perlahan tangan Anto mendekat ke Laras, dan dengan lembut meraih tangan Laras. Laras sedikit terkejut, namun gadis alim itu tidak menarik tangannya. Ia hanya tersipu malu. “aku mau jujur sama dik Laras… aku sayang sama dik Laras…” kata Anto. Tangannya menggenggam erat dan meremas2 tangan Laras. Laras terdiam. Wajahnya merah padam karena malu. Tapi saat itu Markus datang. Laras salah tingkah dan hendak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anto, namun Anto melarangnya. Senyum menenangkan dari Anto membuat gadis lugu yang alim itu tenang. Markus mendekati mereka beredua dan memberikan dua gelas susu panas. “untuk teman dingin2.” Kata Markus. Segera Anto menerima gelas berisi susu yang diberikan Marku padanya,s ementara Laras menerima yang satu lagi. Setelah senyum2 sedikit dengan Anto, Markus segera menjauh dari Laras dan Anto, duduk disudut ruangan, dan membuka laptopnya. Laras dan Anto meneruskan perbincangan mesra mereka. Posisi duduk mereka semakin dekat satu sama lain, didepan komputer milik BEM. Tak lama, Laras merasakan tubuhnya agak panas, dan kepalanya terasa ringan. Gadis lugu itu tak tahu apa yang terjadi, namun yang pasti, ia merasakan didalam tubuhnys eolah ada sedikit gejolak2 yang aneh dan belum pernah ia rasakan, namun ia coba menafikkannya, karena ia mengira rasa itu hanya dari dalam dirinya saja. Ternyata, tanpa sepengetahuan Laras, Markus telah memberi obat perangsang pada minuman susu yang Laras minum. Obat itu tidak terlalu keras, namun sang peminumnya pasti tak bisa menolak gairah2 seks yang terjadi. Tanpa terasa, posisi duduk Laras sudah sangat dekat dengan Anto, dan tanpa Laras sadari, tangan Anto sudah merentang dan merangkul Laras lembut. Gadis alim itu tak mampu menolak, karena gairah yang ia rasakan terus meninggi, dan ditambah perasaan cintanya pada Anto. “aku ingin cium kamu…” bisik Anto lembut. Wajah Laras terlihat kembali memerah. Laras hanya bisa menggeleng pelan. Untuk mengatakan “tidak”, ia tak mampu, karena perasaannya pada Anto menginginkannya. Walaupun Laras menggeleng namun Anto tetap mendekatkan bibirnya ke pipi Laras. Laras berusaha mengelak dengan halus, namun Anto tetap terus maju, sampai akhirnya bersentuhanlah bibir Anto dan pipi mulus Laras. Laras hanya bisa mendesah lirih. Setelah berhasil mencium untuk pertama kalinya, ciuman kedua tidak mengalami halangan yang berarti. Bahkan di ciuman ketiga, Laras memejamkan matanya. Gadis berjilbab lebar itu tak mampu menahan gejolak birahinya yang semakin meninggi. Dan jadilah, seorang gadis alim yang memakai jilbab lebar, sedah merintih dan mendesah dirangsang oleh sang ketua BEM. Sementara Anto terus menciumi Laras yang masih terus mendesah, Markus mendekat dan mengambil posisi disisi Laras yang lain. Anto, yang merangkul dan menciumi pipi gadis alim itu, kini mulai mengulurkan tangan yang satu lagi untuk mengusap2 paha Laras yang masih tertutup rok panjang.

Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab – Terdengar desahan Laras semakin kencang saat tangan kiri Anto naik sampai atas, ke pangkal paha Laras, sang gadis berjilbab yang sedang birahi. Tangan Anto tak sampai ditiu. Ia menaikkan tangannya keatas, mengusap2 daerah dada Laras. Gadis alim itu merasakan ngilu dan nikmat di puting Laras , dan membuat Laras merintih semakin kencang. Kemudian, “Antooo… janganmmhh…,” Laras merintih semakin kencang. “enak ya ras? Mau yang lebih enak lagi?” perlahan Markus menarik Laras dan perlahan Anto melepaskan gadis alim yang cantik itu. Markus memeluk Laras , tangannya Laras rasakan menyentuh dada Laras dan mengusap-usapnya lalu meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu dari luar baju longgar dan jilbabnya. Sesaat Laras terdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Markus. Gadis alim itu merasakan putingnya mengeras dan menegang membuat aliran darah Laras terangsang keseluruh tubuh. Rasanya ngilu dan nikmat membuat seluruh tubuh gadis alim yang cantik itu merinding dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat saluran kencingnya. Kemudian Laras rasakan bibir memek dan anus Laras berdenyut-denyut. Gadis alim yang berjilbab besar itu sedang terangsang hebat. Untung Markus tak menyentuh selangkangan Laras. “jangan too… kuusss…!” ucap Laras sambil kedua tangan Laras dengan lemah berusaha melepaskan kedua tangan Markus dari dada Laras. Walaupun sebenarnya gadis alim itu mulai menikmatinya, namun harga dirinya mengatakan tidak. Tiba2 gadis alim itu merasakan sebuah bibir mencium kupingnya dari luar jilbab merah yang ia kenakan. Mata Laras melirik ke arah wajah tersebut dan terlihat sekilas wajah Anto. Sesaat Laras terdiam kembali. Nikmat di dalam darah gadis alim itu mengalir kembali. Bibir Anto kemudian melumat daun telinga sang gadis alim yang sedang dilanda gejolak birahi itu dari luar jilbab merahnya. Laras rasakan nikmat dan lembut mulut Anto dan membuat Laras tidak dapat mengelak dan menolak. “Ehhhmmmhhh….” hanya itu yang bisa Laras desahkan. Dagu Laras terangkat tinggi. Gadis berjilbab lebar itu merasakan putingnya mengeras dan menegang menjadi sensitif. Laras rasakan ngilu dan nikmat di putingnya. Tampaknya Markus tak mau kalah. Segera tangannya kembali meremas-remas dada Laras. Perlahan mulut Markus mendekat dan melumat bibir gadis alim itu. Lidahnya menjilati semua yang ada di mulut Laras. Laras hanya bisa terdiam tak bergerak, Laras rasakan pikiran Laras melayang jauh. Birahi gadis alim itu mengalir di dalam darahnya. Tubuh Laras semakin sensitif dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiran Laras berharap mendapatkan yang lebih lagi. Gadis alim berjilbab itu merasakan buaian tangan Anto di pahanya sehingga membuat daerah sensitif di selangkangan Laras semakin menjadi. Laras rasakan rok Laras perlahan diangkat Anto. Tangan Anto dengan lembut mengelus-elus paha putih montok gadis alim berjilbab itu dari daerah paha luar, dalam dan sampai di belahan selangkangan Laras. Tubuh Laras bergetar hebat, dan menggelinjang. Tak beberapa lama, diiringi rangsangan2 Anto dan Markus, Tubuh Laras menghentak2 hebat selama beberapa detik dan langsung lunglai. Desahan panjang keluar dari mulut Laras. Gadis alim yang berjlbab dan selalu santun itu mendapat orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya. Kedua pemerkosanya tersenyum karena melihat sang korban sudah jatuh ketangan mereka. Beberapa saat kemudia Anto menghentikan kegiatannya dan berdiri, begitu juga Markus. “jangan disini to, ntar ada yang liat. Kita bawa ke tangga yang pernah kita pake buat ngerjain Silvi aja.” Kata Markus. Ternyata, Markus dan Anto juga pernah melakukan hal yang sedang mereka lakukan pada Laras pada Silvi, seorang gadis lugu yang juga berjilbab besar teman Laras. Segera mereka berdua menuntun Laras yang sudah lunglai tak berdaya keluar dari ruang BEM, menuju tangga. Tangga itu sudah tak pernah dipakai, karena penerangan yang minim juga lantai dan temboknya yang rusak. Biasanya para mahasiswa memakai tangga besar di sayap utara gedung atau lift yang ada ditengah gedung. Tangga ini tak pernah dipakai disiang hari, apalagi di malam hari. Mereka bertiga segera menuruni tangga dan berhenti diantara lantai tiga dan dua, dimana ada bagian datar yang besar. Selesai turun tangga ternyata Markus langsung memeluk Laras. Kedua tangannya menggerayangi buah dada Laras. Gadis alim itu merasakan putingnya menegang ngilu yang nikmat. Birahi mengalir dalam darahnya membuat ia semakin terangsang. Kemudian mereka bertiga duduk dilantai, dengan Anto dikiri dan Markus dikanan Laras. Dan tak lama kemudian tubuh Laras kali ini dirangkul oleh Anto. Tangannya mengelus dan meraba paha Laras , kemudian perlahan menyusup di rok gadis berjilbab itu. Tak lama kemudian celana dalam gadis alim itu yang membentuk belahan kemaluannya terlihat jelas, telah basah oleh cairan orgasmenya. Tangan Anto bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan selangkangan Laras. Terasa bibir memek gadis berjilbab itu berdenyut dan sensitif. Rintihan gadis itu kembali terdengar. Jelas sekali sang gadis alim yang cantik itu sedang terangsang. “Laras… Paha kamu mulus… putih… Kulit kamu lembut…,” sahut Anto dengan kedua tangan yang menikmati tubuh Laras. Sesaat kemudian gadis alim itu merasakan tangan Markus mendekap salah satu buah dadanya yang sedang terangsang. Sesaat nafasnya tertahan. Ia merasakan nikmat di dadanya. Puting Laras sedang dialiri darah birahi. Perlahan dagu Laras terangkat tinggi. Nafas gadis alim itu memburu. Tampaknya Markus dan Anto tahu bila gadis cantik berjilbab besar itu sudah terangsang hebat. Tanpa basa basi lagi mereka melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Markus yang mendekap dada Laras turun dan menyusup kedalam kemeja longgar yang dikenakan Laras. Gadis berjilbab yang cantik itu merasakan tangan Markus menyentuh Kulit perutnya yang mulus dan menyusup sampai mendekap dada montok mulusnya yang tertutup BH dan kemudian meremas-remasnya. Dagu Laras terangkat tinggi. Matanya yang sayu menatap bohlam 5 watt yang membuat tempat itu etrlihat temaram. Kemudian bibir Markus Laras rasakan mengecup dan mencuimi leher Laras yang masih tertutup jilbab. Mata Laras terpejam. Gadis alim berjilbab besar itu menggigit lembut bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak nikmat birahi yang seharusnya terlarang baginya. “Oouuuhhhh..” dengan pelan desahan itu keluar dari mulut Laras. Semakin gadis berjilbab itu keluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Laras rasakan tali BH- Laras terlepas dan BH-nya mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Gadis berjilbab itu merasakan tangan Markus mendekap dadanya secara langsung. “mmhhhh…,” Laras rasakan. Dada Laras diremas-remas lagi dan kemudian kedua puting Laras dimainkan oleh Markus. Nikmat yang membuat gadis berjilbab itu terasa melayang2 diudara. Perlahan kemeja Laras dibuka dan kemudian BHnya. Udara pun menyentuh puting Laras langsung dan merangsang tubuh Laras. Celana dalam Laras dibuka Anto. Kaos dan BH-Laras dilepas Markus. Rok Laras tidak ketinggalan. Baju muslim yang menyelimuti tubuh putih montok sang dara alim berjilbab itu berserakan disekeliling mereka. Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh gadis berjilbab itu, kecuali jilbab besar yang ujung2nya disampirkan ke pundak Laras, kaos kaki putih selutut dan sepatu yang masih terpakai. Ternyata jilbab dang sepatu serta kaos kaki itu memberi sensasi tersendiri pada gairah seks Markus dan Anto. Laras, gadis alim itu kini hanya bisa mendesah2 pasrah menerima rangsangan dari kedua pemerkosanya, seorang preman kampus dari daerah timur Indonesia dan seorang yang disukainya. Perlahan tangan Anto membuat kaki Laras mengangkang lebar. Rasanya buaian angin merangsang paha dalam dan daerah kemaluan gadis berjilbab itu. Tiba2 gadis alim itu merasakan bibir Anto menyentuh dan mengecup bibir memeknya. Dagu Laras terus terangkat tinggi dan dada Laras reflek membusung seakan menyodorkan diri. Mata gadis berjilbab itu terpejam erat. Gadis alim itu merasakan seperti ada setrum yang mengalir dari bibir memek ke seluruh tubuh. “Oouuhhhh…” dengan panjang Laras ucapkan. Laras rasakan tangan Markus meremas dada Laras dan memainkan puting Laras. Ah, 2 titik sensitif Laras terangsang. Dengan reflek dada montok gadis berjilbab itu membusung sesampai-sampainya. Tampaknya Markus tidak diam melihat Laras begini. Segera ia menghisap salah satu puting Laras. Sekarang ketiga titik sensitif Laras terangsang. Gadis berjilbab itu merasakan jari-jari Anto perlahan masuk ke liang memeknya. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat dan serakah. Awalnya Laras memekik karena merasakan sakit yang sangat, namun sejenak kemudian Laras rasakan kenikmatan yang sangat, yang membuat birahi Laras melayang dan terangsang membuat Laras pasrah dan menikmati cara mereka yang sedang menikmati tubuh putih mulusnya. Gadis alim itu mearasakan kemaluannya basah kuyub. Terlihat banyak cairan cinta keluar dari memek sang gadis alim itu, bersama darah keperawanannya. Anusnya juga terkena air yang mengalir. Tampaknya Anto mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anus gadis berjilbab itu. Semakin lama anus gadis berjilbab itu licin dan jari Anto dapat keluar masuk mudah. Akhirnya jari-jari Anto keluar masuk dikedua liang tubuh Laras. Jilbab yang masih ia kenakan basah kuyub oleh keringat. Bibir Anto menikmati daerah pinggang dan perut Laras. Seperti listrik mengalir dalam darah gadis alim itu dan juga daerah daerah tubuhnya yang mereka sentuh. Tak beberapa lama gadis alim itu kembali meraih orgasmenya yang kedua, lalu ketiga. Tubuh montoknya yang putih terlonjak2 menahan birahi yang meledak2 dalam tubuhnya. Mulutnya memekik-mekik keras dan erotis. Sang gadis alim berjilbab, dara di kampus itu telah dikuasai oleh seks dan birahi. Akhirnya Laras terbaring lemas saat ia lihat Anto melepaskan celananya. Laras lihat kontolnya terhunus dan ia tujukan ke liang memek Laras. Gadis alim itu merasakan sentuhan milik Anto di bibir memeknya. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dada gadis berjilbab besar itu terangkat tinggi, merasakan benda hangat, besar dan keras itu masuk menyeruak memenuhi liang memeknya. “Auuughhh!!!!” Laras memekik keras sambil akhirnya milik Anto menancap dalam di liang memek Laras. Kemudian ia keluar-masukkan. Gadis berjilbab itu merasakan gesekan milik Anto keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai anus gadis alim itu berdenyut-denyut. Mata Laras setengah terpejam dan kadang-kadang tubuh Laras ikut bergoyang karena tak tahan merasakan nikmat. Mulutnya mendesah dan merintih penuh kenikmatan. Gadis berjilbab itu sudah terbuai sepenuhnya oleh kenikmatan terlarang. Sekilas terlihat Markus melepaskan celananya. Gadis berjilbab itu melihat milik Markus yang lalu oleh Markus langsung ditempelkan ke mulut Laras. Perlahan kontolnya dimasukkan ke dalam mulut Laras, dan langsung disodok2kan keluar masuk. Saking bersemangatnya Markus, sampai sering gadis berjilbab itu tersedak2 oleh kontol Markus yang hitam dan besar. Beberapa saat kemudian Anto memutar posisi Laras jadi mengungging. Dengan begini Markus dapat dengan mudah memperkosa mulut gadis alim itu dengan kontolnya hitam besarnya yang terhunus. Perlahan Laras rasakan kenikmatan yang berbeda. Milik Anto perlahan ia cabut dari liang memek gadis alim itu dan kemudian Anto hunuskan ke anusnya yang terasa berdenyut-denyut nikmat. Perlahan ia masukkan ke anus Laras yang sudah terangsang, basah dan longgar karena jemarinya. Tidak bisa masuks ecara cepat karena besarnya kontol Anto dan sempitnya anus Laras, namun akhirnya tertancap dalam juga dan segera Anto mengeluar masukkan dengan pelan. Laras memekik2mekik antara sakit dan nikmat. Karena sudah licin maka ia keluar-masukkan dengan cepat dan akhirnya menyembur cairan di liang anus Laras, berbarengan dengan gadis berjilbab itu mencapai orgasmenya yang ketiga, juga dengan melonjak2. Lantai dibawah mereka semakin becek oleh permainan mereka bertiga. “Ouuhh…” Laras ucapkan sambil menikmati semburan yang Anto keluarkan. Setelah itu Anto mendiamkan kontolnya diam tertancap. Sesaat kemudian ia mainkan lagi. Anus Laras sangat licin karena cairannya. Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia tancapkan lagi. Tampaknya ia sengaja. Karena pada setiap tancapan, gadis berjilbab itu mendesah karena merasakan nikmat. Beberapa saat kemudian Laras rasakan banyak cairan yang menyembur dari milik Markusmemenuhi mulutnya. Markus segera mencengkeram kepala Laras yag masih terbalut jilbab sembari membentak sang gadis berjilbab itu untuk menelan semua spermanya. Laras dengan susah paya menelan cairan sperma itu, namun karena saking banyaknya, cairan sperma Markus meluber sampai keluar dan membasahi dagu sampai ke jilbab Laras, bahkan menetes ke lantai. Setelah habis, Markus melepaskan kontolnya dari mulut Laras, dan gadis berjilbab itu langsung terbatuk dan muntah2. Markus dan Anto tertawa melihatnya. Anto kemudian menarik pundak Laras. Sehingga ia dapat memeluk Laras dari belakang. Tangannya meraba-raba dada Laras. Gadis berjilbab itu merasakan Anto berdiri dan Laras tergantung di kontolnya yang menancap. Dari depan Laras lihat Markus ikut berdiri dan menghampiri Laras lagilalu langsung menancapkan kontolnya ke liang memek Laras. Gadis berjilbab itu merasakan kenikmatan tiada tara, merasakan kedua liangnya mereka penuhi dengan kontol besar hitam mereka. Dan akhirnya setelah genjotan demi genjotan, mereka sama-sama sampai puncak dan puas. Laras terbarih lemas dilantai, saat kedua pemerkosanya membenahi pakaian mereka. Tak lama mereka segera membawa Laras naik kembali ke lantai tiga, lalu membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang basah kuyup oleh cairan cinta. Didalam kamar mandi kembali Laras digilir oleh mereka. Diantara genjotan2 yang gadis alim itu rasakan, ia tahu itu bukanlah terakhir ia diperkosa oleh kedua laki2 itu, namun ia sudah tak bisa berbuat apa2, dan hanya bisa pasrah, bahkan terhanyut dalam kenikmatan terlarang itu. Kembali cairan orgasmenya menyemprot-nyemprot keluar ketikagadis alim yang cantik dan berjilbab lebar itu orgasme untuk yang kesekian kalinya. Suatu hari setelah terjadinya perkosaan itu, Laras masih terus teringat. Bukan takut yang ia rasakan, namun rasa ingin mengulanginya lagi, walaupun tak pernah ia mengungkapkannya. Ia tahu, itu akan membuat harga dirinya hancur. Namun saat ia mengingat kontol2 besar Markus dan Anto dan menusuk2 dua lubangnya, seringkali memeknya terasa basah. Gadis alim yang lugu itu ternyata sudah mulai kecanduan kontol. Disebuah sore, saat Laras baru berjalan pulang keluar dari kampus islam tempatnya kuliah, tiba2 dari belakang sebuah mobil escudo memepoetnya. Ada satu orang yang keluar darinya, dan ternyata itu Markus! Langsung bayangan perkosaan yang pernah terjadi teringat dibenak Laras. Kenikmatan kontol besar Markus yang menyodok2 memek dan lubang anusnya juga ikut terbayang. “hai, mbak Laras… ikut camping yuk!” kata Markus langsung. Laras menundukkan pandangannya antara malu, takut dan khawatir birahinya yang tersulut disadari oleh Markus. Segera dia menggelengkan kepala. “maaf mas Markus … saya mau pulang… banyak kerjaan di kost…” kata gadis alim itu dengan suara yang mendayu, terdengar seperti pasrah ditelinga Markus. “cuman sampai besok mbak… besok kan sabtu, gak ada kuliah…” kata Markus. “bareng2 sama teman2ku kok…” kata Markus lagi. “ada ceweknya juga kok. Kalo gak mau ntar kampus heboh lhoo…” kata Markus sambil menyeringai. Laras, gadis alim itu terkesiap. Gadis berjilbab itu menyadari Markus sedang mengancamnya, dan pasti berhubungan dengan perkosaan yang ia alami dulu. Jangan2 Markus punya foto2 saat dia diperkosa. Dengan pucat pasi Laras mengangguk pelan. “nhaaa… gitu donk!” kata Markus. Akhirnya Laras dengan setengah hati ikut mereka, tanpa pulang ke kost dulu. “pake baju gitu aja sudah cakep kok!” kata Markus. Laras yang memakai baju biru langit, rok hitam dan jilbab besar yang berwarna biru langit juga memang terlihat cantik sekali. Didalam mobil, Laras berkenalan dengan teman Markus. Ada Robert, rekan Markus sesuku, yang nampak lebih hitam dan lebih gahar dengan tubuh tinggi kekar. Lalu ada William, yang mengaku dari Maluku, dan seorang wanita yang juga berjilbab besar, yang bernama Jannah. Jannah adalah seorang mahasiswi yang etrlihat pemalu, dengan wajah yang ayu. tubuhnya yang walaupun selalu dibalut baju terusan yang longgar, namun samar2 masih menampakkan kemontokannya. wajahnya yang dibalut jilbab lebar coklat tua terlihat putih dan cantik, walaupun ada beberapa noda bekas jerawat dipipinya yang putih dan agaks edikit tembam. Laras yang mengetahui bahwa Jannah adalah seorang mahasiswi semester tiga yang sangat alim dan pemalu juga pendiam dikampusnya heran, mengapa dia bisa bersahabat dengan Markus dan kawan2nya. Namun Laras tak mampu bertanya2 apa2, karena dia duduk didepan disamping Markus yang menyetir mobil, sementara Jannah ada di belakang, diapit Robert dan William.

Cerita Sex Ngentot Laras Gadis Alim Berhijab – Ketika mobil berjalan, Laras menyadari ada gelagat buruk. iA tahu dia akan kembali diperkosa oleh orang2 dari luar jawa ini. Terlebih, nampaknya Jannah juga salah satu dari korban mereka. Mobil berhenti didepans ebuah rumah gubug yang jauh dari peukiman. Seseorang tua keluar dari gubug dan menyambut Markus dan teman2nya. “barang baru ya bos? Masih seger2…” kata orang tua itu pada Markus pelan, namun terdengar oleh Laras yang kebetulan ada dibelakang Markus. “Markus terlihat menyeringai. “legit-legit semua… lugu-lugu.” Kata Markus. Setelah memarkir mobil dibelakang gubug itu, segera rombongan itu tanpa disertai sang orang tua yang menjaga tempat parkiran itu berjalan menembus hutan. Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya sampailah mereka disebuah tanah yang agak lapang ditengah hutan, dimana segera Robert dan teman2nya mendirikan tenda. Laras memberanikan diri untuk meminta tendanya dan Jannah diletakkan agak jauh dari tenda Markus dan kawan2nya, dan sambil menyeringai lagi si Markus mengangguk. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1920. Laras dan Jannah, sepasang gadis berjilbab itu hanya bisa duduk bersama ketiga orang dari daerah timur indonesia itu mengelilingi api unggun. Mereka berdua hanya diam, dan terkadang menjawab pertanyaan ketiga orang laki2 itu. Sementara itu markus, robert dan William sepertinya sangat menikmati malam itu, camping dengan dua dara cantik berjilbab, ditemani gitar dan beberapa botol minuman keras. Laras tidak melihat gelagat buruk dari ketiga laki2 itu, namun firasat Laras mengatakan bahwa perbuatan itu akan segera terjadi. “Mbak, bisa antarkan aku sebentar? Aku pingin pipis…” bisik Jannah ditelinga Laras. “pipis dimana? Disini gak ada kamar mandi…” kata gadis berjilbab itu. “ada apa? Gak usah kasak-kusuk, ngomong aja sama kita2…” kata William yang melihat bisik-bisik kami. “anu mas Mas… kebelet pipis…” kata Jannah. “pipis beneran apa pipis enak?” tanya robert nakal, langsung disambut gelak tawa kegita lelaki itu, dan rona merah padam diwajah Jannah sang gadis berjilbab montok itu. “terserah mau pipis beneran apa pipis enak, tapi harus kerumahnya pak penjaga tempat ini.. jalannya jauh…” kata William, masih cekikikan. “gak papa… biar saya sama mbak Laras saja…” kata Jannah. “jangan!” kata Masian langsung, seolah takut kami melarikan diri. “bahaya! Biar aku yang nganterin kamu, Nah. Laras, kamu disini aja…” segera mereka berdua pergi. Sebelum pergi, Laras melihat Jannah menatap padanya dengan tatapan takut dan khawatir. 5 menit berlalu, Laras tak mamu menahan perasaannya. “aku juga mau nyusul mereka. Permisi sebentar.” Katanya pada Markus dan Robert yang langsung bengong. Segera Gadis montok berjilbab itu menyusuri jalan setapak membelah hutand engan senter robert yang tergeletak didekat api unggun. Belum ada 50 meter ia berjalan, ia melihat dikiri jalan ada cahaya. Ternyata cahaya lampu badai yang tadi dibawa William. Segera Laras terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia melihat Jannah, sang gadis berjilbab lebar dan berpayudara besar tadi sedang digeluti oleh William si pemuda hitam dari maluku, dengan bersandar dibawah pohon. Lampu badai diletakkan didahan diatas mereka, mampu memberi cahaya remang yang erotis. Terlihat William menggeluti Jannah. Jannah memberikan meronta2 dan mengerang2 namun rontaan dan erangannya tak mampu mengimbangi kekuatan Jong Ambon yang kekar itu. Akhirnya rontaan gadis berjilbab itu tak lebih dari sekedar formalitas agar ia tidak dikira menikmati. lidah William menjalar bagai bagai ular menjilati semua bagian wajah gadis alim itu yang memang putih dan cantik. Bibirnya mengecup semua bagian wajah Dahia. Erangan tanda penolakan Jannah segera berubah menjadi desahan2 tanggung, menolak namun juga seakan tak kuasa menahan birahinya. sementara itu tangan William menyusup kebalik jilbab gadis alim itu, membuka kancing baju terusannya dan langsung masuk kedalamnya, meremas-remas payudara montok Jannah, yang menyebabkan gadis berjilbab itu mendesah-desah semakin keras. suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Sang gadis alim yang berwajah lugu itu telah terhanyut gelora birahi,. William menyibakkan jilbab Jannah dan dililitkannya ke leher gadis alim itu, mempertontonkan buah dadanya yang montok, keluar dari baju terusannya yang telah terbuka kancingnya. BH yang ia gunakan juga sudah melorot, sehingga putihnya kulih buah dada itu dan putingnya yang merah jambu juga turut terlihat. Segera William membungkuk. Mulutnya mencaplok buah dada sang gadis alim yang sudah terhanyut gelombang birahi itu. Lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putting merah jambu gadis berjilbab itu, menghisap dan meremas-remas payudara Jannah. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif Jannah yang masih tertutup celana dalam dan baju terusan itu. William pelan2 menaikkan bagian bawah baju terusan Jannah, lalu setelah tersibak, ia berusaha membuka penutup terakhir sang gadis alim itu, tapi ketika jari2 besar William menyentuh celana dalam Jannah, seakan Jannah sadar dari birahinya dan langsung meronta keras “Jangan Mas” tolak Jannah. “Kenapa Nah, kemarin kamu keenakan…” tanya William. “Jannah takut… jangan mas… ini dosa…” “Ntar kalo dah keenakan lu bakalan lupa, cantik…” bujuk William. “Jannah nggak mau..” Jannah memelas. Matanya berkaca2. “Mas pelan2, kamu bakalan enak…” lanjut William membujuk Gadis berjilbab itu diam. Kepalanya menggeleng. “Kamu rileks aja ya…”, kata William sambil menciumi pipi dan bibir Jannah, sembari kembali meremasi buah dada montok sang gadis berjilbab itu. Mata Jannah kembali setengah tertutup. Birahi kembali menghinggapinya. William tidak membuang-buang waktu, ia membungkuk dan kembali menikmati bukit kenikmatan Jannah yang indah itu, menyedot2 dan menggigit-gigit putingnya. Gadis berjilbab itu menggelinjang. perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun celana dalam putih berenda Jannah yang sudah basah kuyub. Dengan hati-hati William membuka kedua paha putih montok Jannah dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh montok gadis alim yangs elalu memakai jilbab lebar dan baju terusan itu bergetar merasakan lidah William. Kepalanya yang masih terbalut jilbab terdongak keatas. Tubuhnya kembali menggelinjang. Gadis alim berjilbab itu terus bergetar, berdiri bersandar sebuah pohon dengan jilbab yang tersibak, buah dada montok yang menggantung keluar penuh air liur dan cupangan, dan seorang laki-laki yang jongkok didepannya, menjilati dan mengorek2 memeknya dengan lidahnya. Desahan dan erangan nikmat terdengar semakin menjadi2 dari mulut sang gads berjilbab. “Agghh.. Mas.. jangaaannhh…oouugghh.. enakk.. Mas…aaiiihh…” Mendengar desahan Jannah, William semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan gadis alim yang lugu itu, dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Jannah, tubuh gadis berjilbab itu menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya kirinya mengusap-usap dan menarik-narik rambut William, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan, sementara tangan kanannya mulai meremas-remas buah dada montoknya sendiri, dan merangsang putingnya. Jannah semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut William melahap kewanitaannya. Kepala gadis berjilbab itu mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai keatas, lalu mencengkeram erat pohon yang menjadi tempat bersandarnya. Mata sang gadis alim berjilbab itu terbalik dan hanya terlihat putihnya saja. Jannah sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. William yang sudah yakin rangsangannya berhasil, tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia segera membuka retsleting celana jeansnya, dan langsung memelorotkannya bersama celana dalamnya. Terlihat Kontol William yang besar dan hitam sudah mengacung. Ia segera bangkit dari jongkoknya, kembali menggeluti tubuh Jannah dengan berdiri. Jannah yang sudah terhanyut dalam lautan birahi tak mampu lagi melawan nafsunya, dan menyambut rangsangan2 dari William. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Laras yang dari tadi terkesima melihat live show ditengah hutan itu merasakan degup jantungnya berdetak kencang. bagian-bagian sensitif di tubuhnya mengeras. Laras mulai terjangkit virus birahi mereka. William kemudian dengan satu kakinya tanpa kesulitan merenggangkan kaki Jannah. Pemuda maluku itu lalu memepet sang gadis berjilbab di pohon tadi, memegang kejantannya, lalu mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha putih montok sang gadis alim. “Jangan Mas… Jannah takuut…” sergah Jannah. Tapi etrasa penolakannya tanpa tenaga apa2. “Rileks Nah.. ntar pasti enak.. nikmati aja..” bujuk William, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan gadis alim itu. “Tapi.. Mas.. oohh.. aahh” protes Jannah tenggelam dalam desahannya sendiri. “Nikmatin aja Nah..kamu dulu juga keenakan, kan…” kata William sambil menyeringai. “Ehh.. akkhh.. mpphh” Jannah semakin mendesah “Gitu Nah…. rileks.. nanti lebih enak lagi” “He eh Mas.. eesshh” “Enak kan, Nah….?” “Ehh.. Maaaasssshh…” Laras yang melihat itu benar-benar ternganga dibuatnya. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Birahi yang ia rasakan semakin meninggi gara2 live show yang terjadi. Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Jannah yang terdengar. “Aku masukin ya Nah..” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. William langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan gadis alim berjilbab lebar itu. “Aakhh.. Mas.. eengghh” erang Jannah cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuh Laras meremang mendengarnya. William lebih merunduk lagi. Perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Jannah. Lidahnya kembali merangsang putting merah jambu sang gadis berjilbab. “Eeemmhhh…teruss.. Mas.. enaaakhh.. ohh.. isep yang kerasss..” Jannah meracau. “Aku suka sekali payudara kamu Nah…. mmhh” “Isep terussss…massshh…aaahhh…” secara refleks sang gadis nberjilbab itu menyorongkan dadanya membuat William bertambah mudah melumatnya. Bukan hanya Jannah yang terayun-ayun gelombang birahi, Laras yang terus melihat semua dari balik belukar turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar jemari Laras menyusup kebalik jilbabnya, mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingnya sendiri dari luar bajunya, membuat mata Laras terpejam-pejam merasakan nikmatnya. William tahu Jannah sudah pada situasi yang sangat birahi, ia segera mencangkeram pinggul Jannah dengan kedua tangannya yang kekar seraya terus melumat mulut dan menciumi seluruh bagian wajah gadis alim itu. Terlihat William menekan pinggulnya lebih dalam dengan kasar. Laras menggelinjang membayangkan bagaimana kejantanan William yang besar, tebal dan hitam melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Jannah sang gadis berjilbab itu. “Auuwww.. Mas.. sakiitt” jerit Jannah. “udaah…udah Maaassss…” air matanya mulai mengalir. Walaupun Jannah sudah tidak perawan karena keperawanannya sudah direnggut oleh William diperpustakaan kampus beberapa hari yang lalu, namun kontol William yang besar serta sodokan William yang kasar tetap menyakitinya. “Rileks Nah…. supaya enak nanti” bujuk William, sambil terus menekan lebih dalam lagi. “Sakit Mas.. pleasee.. jangan diterusin” Terlambat.. seluruh kejantanan William telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Jannah. Beberapa saat William tidak bergerak, masih sambil berdiri dan memepet Jannah di pohon, ia mengecup-ngecup bibir dan seluruh wajah Jannah, dan turun ke payudara gadis alim itu yang montok dan putih. Perlakuan William membuat birahi Jannah terusik kembali, gadis lugu berjilbab itu mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Tangan gadis alim itu merangkul leher William dan meremas2 rambut William. William memahami sekali keadaan Jannah, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging gadis alim berjilbab itu yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan. “Uhh.. ohh.. Mas” desah kenikmatan Jannah, kakinya dibuka lebih melebar lagi. jilbabnya yang tersingkap, basah oleh keringat, bajunya yang terbuka memamerkan buah dada yang montok putih, dan bagian bawah yang tersingkap membuat segalanya semakin erotis. William tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya. “Agghh.. ohh.. enak maass… terus Maaassss…” Jannah meracau merasakan kejantanan William yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya yang masih memakai jilbab tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon William tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya. “Aaauugghh.. sshh.. Mas.. ohh.. Mas” gadis alim yang biasanya santun itu tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Mereka berdua bersetubuh dengan berdiri, bersandar di pohon besar ditemani cahaya remang lampu badai di malam buta. Desahan2 erotis mereka berdua mengisi hutan. Sang gadis montok berjilbab itu kembali takluk oleh sang pemuda maluku berkontol besar. Pinggul William yang turun naik dan kaki Jannah yang terbuka lebar membuat darah Laras yang sedang mengintip berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifnya. Gadis berjilbab itu menyingkap rok panjangnya dengan tangan kiri dan menyusupkannya kebalik CD. Tubuh sintal Laras bergetar begitu jari-jemari lentiknya meraba-raba kewanitaannya. “Ssshh.. sshh” desis Laras tertahan manakala jari tengah gadis balim itu menyentuh bibir kemaluannya sendiri yang sudah basah, sesaat ‘life show’ William dan Jannah terlupakan. Kesadaran Laras kembali begitu mendengar pekikan Jannah. “Adduuhh.. Mas.. nikmat sekalii” Gadis alim yang lugu itu terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu. “enak kan Nahhh.. makanya gak usah munafik… ahh.. nikmati ajaahh..” “Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Mas” “Punya kamu enaakk sekalii Nah…. uugghh.. memek gadis berjilbab kayak mau emang legiithh..” “Ohh.. Mas.. eennaaakkk.. sshh…” desah Jannah seraya memeluk William. Gadis lugu yang berjilbab itu semakin agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat William. “Enaak Nah…. terus goyang.. uhh.. eenngghh..cewek jilbab ternyata doyan ngentothhh…” merasakan goyangan Jannah William semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya. “Ahh.. aahh.. Mas.. teruss.. mau keluaaarrhh…” pekik Jannah. Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka. “Mas.. tekan lagii.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh..ooouuugghhh….!!!” Gadis alim yang masih ebrjilbab itu melenguh keras dan panjang. Ia sudah mencapai orgasmenya. William menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh Jannahpun mengejang. Gema erangan kenikmatan Jannah memenuhi malam dan kemudian Jannah terkulai lemas. William melepaskan tubuh montok Jannah, dan pelan-pelan Jannah jatuh terduduk dibawah pohon itu. Nafasnya memburu, dari memeknya air kenikmatannya mengalir deras. Sementara itu William yang belum mencapai puncak kenikmatan nampaknya masih ingin meneruskan permainan. Dari tempat Laras bersembunyi, terlihat kontol William yang besar berkilat-kilat karena terbaluri cairan cinta milik Jannah. Pelan2 William mengocok kontolnya sendiri dengan tangan kanan. Tangan kirinya menaikkan kaosnya agar penisnya bisa semakin jelas terlihat. Segera ia mendekati Jannah, si gadis berjilbab itu yang sedang terduduk bersimpuh, lemas karena baru saja meraih orgasmenya. “Sekarang Jannah emut punyaku.” kata William sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke wajah cantik gadis berjilbab itu dengan gaya santai. Jannah menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik melihat penis yang besar dan legam itu, yang sudah basah oleh cairan cintanya sendiri. “Jangan takut Nah, entar juga enak kok..” kata William masih dengan gaya santai, seolah menyodorkan permen kepada anak kecil. Jannah kembali meneteskan air mata menggeleng, hal itu membuat William tidak sabar, dicengkeramnya kepala Jannah yang masih terbalut jilbab dan ditariknya sampai wajahnya mendongak, lalu digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Jannah. Gadis alim itu pelan-pelan menurut, dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti menelan permen besar, penis William meluncur masuk ke mulutnya. Terasa cairan cintanya sendiri dilidahnya, yang kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan lembut, sesekali Jannah diperintahkan untuk mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga, lama kelamaan gadis alim itu mulai terbiasa dengan penis William dan mulai dapat menyesuaikan diri, sesuai dengan instruksi William. Gadis alim yang lugu dan berjilbab besar itu diajari cara memberi kenikmatan pada lelaki dengan mulut dan tangan oleh sag pemuda maluku, William. Jannah diminta untuk menjilati samping-sampingnya hingga ke buah pelirnya, bahkan memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian Jannah diperintahkan untuk kembali memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. William mendesah merasakan kehangatan mulut Jannah, sentuhan lidah gadis alim yang lugu itu memberi sensasi nikmat padanya. “Uuhhh…gitu Nah, enakmmmm.. kamu pintarrrhh…!” gumamnya sambil memegangi kepala Jannah yang masih tertutup jilbab dan memaju-mundurkan pinggulnya. Jannah merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir William yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulut gadis lugu yang berjilbab itu semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. William yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Jannah makin meledak, lalu dengan menahan kepala gadis alim itu diselangkangannya menggunakan kedua tangannya, dengan kasarnya William menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penis itu menggenjot mulut gadis berjilbab itu. “Aggh..aggh… .” suara Jannah terdengar tersedak oleh penis William. Air liur gadis berjilbab itu mengalir keluar, deras membasahi dagunya, turun ke jilbabnya yang sudah tersibak, sampai bajunya yang awut2an. Airmatanya deras mengalir. Tangan Jannah berusaha menahan pinggul William agar tidak bisa memompa penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Jannah sia-sia saja, William dengan kuat mencengkeram kepala Jannah yang masih memakai jilbabdan mennyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar membuat gadis alim itu menggelepar berusaha untuk bernafas dengan baik. Sekitar sepuluh menit lamanya gadis alim itu dipaksa untuk melakukan hal itu, sampai William menekan kepalanya sambil melenguh panjang. William masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati wajah cantiks ang gadis alim yang berjilbab itu. “Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu. Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa. “Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu. Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa. Beberapa menit Laras istirahat mengatur nafas. Orgasmenya benar2 membuat ia capek., namun ia semakin terangsang dan ingin ada kontol yang memasuki memeknya. Setelah beberapa menit, ia memutuskan untuk kembali ke tenda. Ketika ia melihat Jannah da William, ternyata William sudah kembali gairahnya dan sudah kembali menggenjot memek jannah, kali ini dengan tiduran dan Jannah terlentang pasrah dibawahnya kembali desahan mereka berdua terdengar. Namun Laras tidak melanjutkan acara mengintipnya, dan kembali ke tenda. sekembalinya di tenda, ia tidak menemui Markus dan Robert. Segera ia duduk didean api unggun dan berusaha mengusir bayangan tentang live show yang tadi ia lihat, namun alih-alih pergi, bayangan itu jstru terus membayanginya. Tak terasa kembali tangan kananya menyusup kebalik jilbabnya, meremasi buah dadanya sendiri dari luar bajunya. Tangan kirinya kembali turun kebawah, merangsang memeknya dari luar bajunya. Gadis alim yang berjibab dan berbadan sintal ini sudah sangat terangsang. Bibir bawahnya ia gigit 2 karena sangat terangsang. Tiba-tiba, kegiatan Laras berhenti karena dikejutkan oleh suara dari arah belakang. Ternyata Robert dan marku sudah kembali, entah darimana. Mereka berdua langsung tersenyum menyeringai dan mendekati Laras. “tenang saja mbak, kami cuman mau duduk disamping mbak.” Kata Markus sambil tersenyum lebar. Akhirnya mereka duduk beralaskan tikar, didepan api unggun. Laras di tengah. Pikiran gadis alim itu teringat pada perkosaan nikmat yang pernah ia rasakan, dan live show yang tadi ia saksikan. Wajahnya yang cantik jadi merah padam, dan jadi salah tingkah. Tanpa ia sengaja, kenikmatan yang dulu ia rasakan kembali membangkitkan birahi gadis berjilbab itu. Rasa gatal menyeruak dimemek Laras mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, Laras jadi salah tingkah. Markus yang pertama melihat kegelisahan Laras. “Kenapa Mbak Laras…, gelisah banget horny ya” tegurnya bercanda. “Ngga lagi, ngaco kamu Kus” sanggah Laras. “Kalau horny bilang aja Mbak Laras….. hehehe.. kan ada kita-kita” Robert menimpali. “Udah, jangan ngomong kayak gitu…” sanggah Laras lagi menahan takut. Tapi sesungguhnya dibenaknyapun rasa itu semakin menjadi. Markus tidak begitu saja menerima sanggahannya, diantara mereka ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang Laras rasakan. Markus tidak menyia-nyiakannya, bahu gadis berjilbab itu dipeluknya. Laras sedikit menggeliat hendak menghindar namun pelukan Markus terlalu erat. “jangan kuss…” kata Laras. Suaranya yang lirih dan terkesan pasrah membuat Markus tahu bahwa Gadis alim berjilbab lebar ini sebenarnya juga sudah mulai terangsang. “Santai Mbak Laras…, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal.. toh kamu juga dah pernah ngerasain kotolku. Enak kan?” bisik Markus sambil meremas pundak Laras yang tertutup baju dan jilbabnya. Kata2 markus membuat wajah putih gadis ebrjilbab itu merah padam. Gadis alim itu kembali menggeliat berusaha melepaskan diri, namun sekali lagi, tenaganya yangs etengah2 karena sudah terangsang itu tak mampu menandingi pelukan Markus. Remasan dan terpaan nafas Markus saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuh Laras meremang, tanpa terasa tangan gadis berjilbab itu meremas-remas rok panjangnya. Matanya terpejam2 keenakan dan kembali ia menggigiti bibir bawahnya. Markus menarik tangan Laras meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tangan Laras jadi meremas paha Markus. “Remas aja pahaku Mbak Laras… daripada rok” bisik Markus lagi. Merasakan paha Markus dalam remasan Laras membuat darah Laras berdesir keras. “Ngga usah malu Mbak Laras…, santai aja.. ntar juga enak..” lanjutnya lagi. Entah karena bujukannya atau Laras sendiri yang sudah sangat terhanyut napsu birahi, tidak jelas, yang pasti tangan Laras tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang ‘wow’ Laras meremas pahanya. Merasa mendapat angin, Markus melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas paha gadis berjilbab yang alim itu yang masih terbungkus rok panjang hitam, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuat Laras merinding. Entah bagaimana mulainya tanpa Laras sadari, Markus sudah menyingkap rok hitamnya keatas dan tangan Markus sudah berada dipaha dalamnya, tangan kasar Markus mengelus-elus paha putih laras yang selama ini tertutup rok dan baju yang longgar dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuat Laras semakin terbuai, membiarkan kenakalan tangan Markus yang semakin menjadi-jadi tanpa mampu berbuat apa2. “Ras gue pengen deh liat leher sama pundak kamu” bisik Markus seraya mengecup pundak Laras dari luar baju dan jilbabnya.. A Laras yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu. Selama ini belum ada yang memperlakukan gadis alim itu seperti yang dilakukan Markus. “Jangan Kus” namun Laras berusaha menolak. “Kenapa Mbak Laras…, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penolakan Laras Markus tetap saja mengecup, bahkan ciuman Markus semakin naik keleher Laras yang masih tertutup jilbabnya, disini Laras tidak lagi berusaha ‘jaim’. “Kus.. ahh” desah Laras tak tertahan lagi. “Enjoy aja Mbak Laras…” bisik Markus lagi, sambil mengecup dan menggigiti daun telinga Laras dari luar jilbabnya. “Ohh Kus” Laras sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat ‘live show’, perlahan merayapi lagi tubuh Laras. Laras hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Markus di leher dan telinga Laras. Robert yang sedari tadi asik nonton melihat Laras seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiri Laras jadi sasaran mulutnya. Melihat Laras sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Markus semakin naik hingga akhirnya menyentuh memek gadis alim berjilbab lebar itu yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di memeknya, remasan Robert di payudara Laras dan kehangatan mulut mereka dileher Laras membuat magma birahi Laras menggelegak sejadi-jadinya. “Agghh.. Kuss.. Berthhh….. ohh.. sshh” desahan Laras bertambah keras. Robert dengan tangkas menyibakkan jilbab lebar Laras dan menyampirkannya ke bahunya, lalu membuka kancing2 baju dan bra Laras. Bukit kenyal 34b- Laras yang putih bersih menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Markus juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba memek Laras yang sudah basah oleh cairan pelicin. Laras jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuh Laras bergelinjang keras. Baju longgar dan jilbab lebar yangs elama ini ia pakai untuk menjaga dirinya dari para hidung belang sudah awut2an. “Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahan Laras berganti menjadi erangan-erangan. Sang gadis alim itu sudah tak lagi mampu menahan gejolak birahinya. Suara desahan birahinya mengisi keheningan lapangan ditengah hutan itu. Mereka melucuti seluruh penutup tubuh Laras kecuali jilbab biru langtnya dan kaus kaki putih bersih gadis alim itu. Tubuh sintal Laras dibaringkan dirumput beralas tikar dan mereka pun kembali menjarahnya. Robert melumat bibir Laras dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutnya, lidah mereka saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Markus menjilat-jilat paha Laras lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di memeknya, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisnya, bersamaan dengan itu Robert pun sudah melumat payudaranya, puting Laras yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya. Diperlakukan seperti itu membuat Laras kehilangan kesadaran, tubuh Laras bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Mata sang gadis alim itu terbalik sampai hanya terlihat ptihnya, terlihat sangat erotis dengan jilbab yang masih ia kenakan. Laras mulai meremas2 punggung Robert sambil meracau tak karuan, meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya. “Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. teruss.. sshh.. enakk sekalii” “Nikmatin Mbak Laras….. nanti bakal lebih lagi” bisik Robert seraya menjilat dalam-dalam telinga Laras dari luar jilbabnya.. Mendengar kata ‘lebih lagi’ Laras seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul Laras angkat-angkat, seolah ingin Markus melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya memek Laras dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairan Laras. Tidak berapa lama kemudian Laras merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuh putih gadis alim itu menegang, Laras peluk Robert-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya. “Aaagghh.. Kuss.. Berthhh….. akuu.. oohh” jerit Laras keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam memek Laras. Tubuh mahasiswi yang biasanya selalu menjaga dirinya dengan baju longgar dan jilbab lebar itu menggeleppar2 lalu melemas.. lungai. Markus dan Robert menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuh Laras beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata Laras ingat-ingat apa yang baru saja Laras alami. Permainan Robert di payudara dan Markus di memek Laras yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah Laras alami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuh Laras. Laras semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba Laras rasakan hembusan nafas ditelinga Laras dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Robert mulai lagi, tapi kali ini tubuh Laras seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Robert sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuh Laras. Begitupun Markus sudah bugil, ia membuka kedua paha Laras lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya. Mata Laras terpejam, Laras sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuh Laras sebagai ‘hidangan’ utama. Gadis alim itu sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Gairah Laras bangkit merasakan lidah Markus menjalar dibibir kemaluannya, ditambah lagi Robert yang dengan lahapnya menghisap-hisap puting Laras membuat tubuh Laras mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuh Laras. “Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. nngghh.. aaghh” rintih Laras tak tertahankan lagi. Markus kemudian mengganjal pinggul Laras dengan gulungan tikar sehingga pantat Laras menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluan Laras. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatannya, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuh Laras bagai tersengat aliran listrik Laras hilang kendali. Gadis manis berjilbab itu merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu Laras rasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibir Laras.. kontol Robert! Laras mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Robert tidak menggubrisnya ia malah manahan kepala Laras dengan tangannya agar tidak bergerak. “Jilat.. Mbak Laras…” perintahnya tegas. Gadis alim berdada sekal itu tidak lagi bisa menolak, Laras jilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Robert mendesah-desah merasakan jilatan Laras. “Aaahh.. Mbak Laras…r.. jilat terus.. nngghh” desah Robert. “Jilat kepalanya Mbak Laras…” Laras menuruti permintaannya yang tak mungkin Laras tolak. Lama kelamaan Laras mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang kontol itu, lidah Laras berputar dikepala kemaluannya membuat Robert mendesis desis. “Ssshh.. nikmat sekali Mbak Laras…r.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya. Laras tak tahu harus berbuat bagaimana, Laras ikuti saja apa yg pernah Laras lihat di film, kepala kontolnya pertama-tama Laras masukan kedalam mulut, Robert meringis. “Jangan pake gigi Mbak Laras….. isep aja” protesnya, Laras coba lagi, kali ini Robert mendesis nikmat. “Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Mbak Laras…” Melihat Robert saat itu membuat Laras turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kontolnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutnya, belum lagi kenakalan lidah Markus yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluan Laras. Tubuh mahasiswi berjilbab lebar itu sudah terkunci, dirangsang atas dan bawahnya. Laras semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhnya, Laras bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kontol Robert yang separuhnya berada dalam mulut Laras. Beberapa saat kemudian Robert mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tangan Laras tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulut Laras. Laras menjadi gelagapan, Laras geleng-gelengkan kepala Laras hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepala Laras membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Robert bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan.. “Aaagghh.. nikmatt.. Mbak Laras…aa…aakkuuuhh.. kkeelluaarr” jerit Robert, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulut Laras membuat Laras tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokan Laras sebagian lagi tercecer keluar dari mulut Laras, menetes turun membasahi jilbab biru langit laras. Laras sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulut Laras. Gadis alim itu shock dengan apa yang terjadi. Belum Laras pulih dari syoknya, Markus merebahkan tubuh Laras kembali dilantai beralas karpet, kali ini dada Laras dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiri Laras tangannya melesat turun ke memeknya, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluan Laras. Birahi gadis alim itu kembali mennggi. Tubuh Laras langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Markus. “Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desis Laras tak tertahan. “mmmhh….Kuss.. aakkhh” Laras menjadi lebih menggila waktu Markus mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluannya, seakan kurang lengkap kenikmatan yang Laras rasakan, kedua tangan Laras meremas-remas payudara Laras sendiri. Gadis alim itu sudah total terbakar api birahi nista. “Ssshh.. nikmat Kuss.. mmpphh” desahan Laras semakin menjadi-jadi. Tak lama kemudian Markus merayap naik keatas tubuh Laras, sambil mengelap keringat yang muncul diwajah Laras dengan jilbab yang masih Laras pakai, lalu merapikannya. “ternyata emang kamu lebih cantik dan seksi kalo pake jilbab, mbak laras…jadi gak sabar pengen ngentot kamu.” Kata Markus. Terlihat binar birahi dimatanya. Gadis berjilbab itu pasrah menanti apa yang akan terjadi. Markus membuka lebih lebar kedua kaki Laras, dan kemudian gadis alim itu merasakan ujung kontol Markus menyentuh mulut memek Laras yang sudah basah oleh cairan cinta. “Aauugghh.. Kuss.. jangaann..saakiitt…pelann..” jerit Laras lirih, saat kepala kontolnya melesak masuk kedalam rongga kemaluan Laras. Markus menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang memek Laras. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu dulu pernah Laras rasakan kembali menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuh Laras. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuh Laras membuat pinggul gadis alim itu mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Markus. “Ooohh.. Kuss.. sshh.. aahh.. Kuss..mmhh..” desah Laras lirih. Laras benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut memek Laras. Mata Laras terpejam-pejam kadang Laras gigit bibir bawah Laras seraya mendesis. “Enak.. nggaakk..mbaakk…Laraass..” tanya Markus berbisik. “He ehh Kuss.. oohh enakk.. Kuss.. sshh” “Nikmatin mbaakk.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi. “Ooohh.. Kuss.. ngghh” Markus terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kontolnya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi Laras terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Markus menekan kontolnya lebih dalam membelah memek Laras. “Auuhh.. sakitt Kuss” jerit Laras. Markus menghentikan tekanannya. “nanti juga hilang kok sakitnya” bisik Markus seraya menjilat dan menghisap telinga Laras tetap dari luar jilbabnya. Rupanya memang Markus dan Robert sengaja tidak melepas jilbab Laras, karena membuat Laras semakin nampak Innocent, sehingga menambah gairah dua pejantan dari indonesia timur itu untuk menggauli sang gadis alim. Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti Laras mulai merasakan nikmatnya milik Markus yang keras dan hangat didalam rongga kemaluan Laras. Markus kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga memek Laras menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuat gadis alim itu menggelepar-gelepar. Jilbabnya sudah kembali awut2an. “Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Kuss.. empphh” desah Laras tak tertahan. “Ohh.. Mbak Laras…r.. bener-bener enak banget memek kamu.. oohh..tebell..oouuhh..” puji Markus diantara lenguhannya. “Agghh.. terus Kuss.. teruss” Laras meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kontol Markus di kemaluan Laras. Peluh-peluh birahi mulai membanjir membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan mereka. Menit demi menit kontol Markus menebar kenikmatan ditubuh Laras. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuh Laras tak lagi mampu menahan letupannya. “Markusi.. oohh.. tekan Kuss.. agghh.. nikmat sekali Kuss” jeritan dan erangan panjang yang jalang terlepas dari mulut Laras. Tubuh Laras mengejang, Laras secara refleks memeluk Markus erat-erat, magma birahi Laras meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung memek Laras. Tubuh Laras terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Markus mulai lagi memacu gairahnya, hisapan dan remasan didada Laras serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahi gadis alim yang montok itu. Lagi-lagi tubuh Laras dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuh Laras dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali memek Laras berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Markus sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuh Laras. Selagi posisi Laras di atas Markus, Robert yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri mereka, dengan berlutut ia memeluk Laras dari belakang. Leher Laras dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dada Laras. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitoris Laras membuat Laras menjadi tambah meradang. Kepala Laras yang masih terbalut jilbab bersandar pada pundak Robert, mulut Laras yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumat oleh Robert. Pagutan Robert Laras balas, mereka saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggul Laras semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Laras begitu menginginkan kontol Markus mengaduk-aduk seluruh isi rongga memek Laras yang meminta lebih dan lebih lagi. “Aaargghh.. Mbak Laras…r.. enak banget.. terus Mbak Laras….. goyang terus” erang Markus. Erangan Markus membuat gejolak birahi Laras semakin menjadi-jadi, Laras remas buah dada Laras sendiri yang ditinggalkan tangan Robert.. Ohh Laras sungguh menikmati semua ini. Robert yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Markus duduk dengan kaki dibentangkan ditikar, Laraspun diperintahkan merangkak kearah batang kemaluannya. “Isep Mbak Laras…” perintah Markus, segera Laras lumat kontolnya dengan rakus. “Ooohh.. enak Mbak Laras….. isep terus…aah…emang enak banget emutan cewek jilbab…aaahh..” Bersamaan dengan itu Laras rasakan Robert menggesek-gesek bibir kemaluan Laras dengan kepala kontolnya. Tubuh Laras bergetar hebat, saat batang kemaluan Robert-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Markus-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluan gadis berjilbab itu dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kontol Robert serasa membakar tubuh, birahi Laras kembali menggeliat keras. Gadis yang biasanya alim itu kini menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kontol didalam tubuh Laras. Batang kemaluan Markus Laras lumat dengan sangat bernafsu. Kesadaran Laras hilang sudah. Naluri birahi gadis alim itu yang menuntun melakukan semua itu. “Rasr.. terus Mbak Laras…r.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang Markus. Laras tahu Markus akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutn

Incoming search terms:

  • cerita sex muslimah
  • cerita sex jilbab di hutan
  • cerita seks muslimah
  • cerita dewasa muslimah
  • cerita ngentot muslimah
  • cerita sex cewek muslimah
  • Cerita sex wanita muslimah
  • Cerita sex muslim
  • Cerita seks perkosa cewek muslimah com
  • cerita sex gadis muslimah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *